Kisah Haru Jihad para Santri dan Kyai saat Tragedi 10-11-45 di Surabaya

Kisah Haru Jihad para Santri dan Kyai saat Tragedi 10-11-45 di Surabaya

 

Kalangan santri sempat disebut kaum bersarung. Ini terkait dengan busana penutup aurat yang kerap dikenakan para santri, yakni sarung. Di era dahulu sarung berpasangan dengan alas kaki terbuat dari kayu alias bakiak. Tidak banyak yang menuturkan tentang kisah-kisah heroik para santri dan para Kyai yang turut serta dalam pertempuran di Surabaya saat itu, padahal di tubuh mereka itulah letak kekuatan para pejuang, layaknya pertempuran-pertempuran di zaman Nabi SAW.

 

mujahidin siap bertempur

foto http://Brilio.net mujahidin siap bertempur

 

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada 20 orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan 200 orang musuh. Dan jika ada 100 orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan 1000 dari orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu 100 orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan 200 orang; dan jika di antaramu ada 1000 orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan 2000 orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar“. (QS. Al Anfal : 65-66)

Dahulu kaum santri lekat dengan sarung dan bakiak. Paket itu tak hanya untuk aktivitas sehari-hari para santri. Pada jaman penjajahan Belanda, bakiak juga dipakai santri untuk berperang.

Hal ini dilakukan oleh komandan perang 10 November 1945 Kyai Abbas Abdul Jamil dari Pesantren Buntet Cirebon. Dalam pertempuran Surabaya yang tanggalnya diabadikan sebagai Hari Pahlawan itu, Kyai Abbas menggunakan bakiak menghadang hujan peluru Belanda.

“Bakiak tersebut yang digunakan oleh Kyai Abbas untuk memimpin peperangan 10 November,” ujar penulis buku Kisah-kisah dari Buntet Pesantren, Munib Rowandi, Kamis (10/11/2016).

 

pertempuran surabaya

foto http://Brilio.net pertempuran surabaya

 

Selain menggunakan bakiak, lanjutnya, ternyata Kyai Abbas juga menggunakan alu ( alat penumbuk padi ) dan tasbih untuk melawan para penjajah dalam peristiwa besar tersebut.

Munib mendapatkan data peristiwa 10 November tersebut dari penuturan pengawal Kyai Abbas yang bernama Abdul Wahid. Seperti yang dituliskan oleh Abdul Wahid, Kyai Abbas memimpin perang 10 November dengan menggunakan bakiak yang dipegangnya sejak dari Cirebon.

Dalam kisah yang didapatkan dari Abdul Wachid, diketahui Kyai Abbas berangkat dari Cirebon beserta kiai dan santri dengan menggunakan kereta api. Mereka singgah terlebih dahulu di kediaman Kyai Bisri di Rembang Jawa Tengah.

 

Mobil Buick Brigadir Jenderal Mallaby yang meledak di dekat Gedung Internatio dan Jembatan Merah Surabaya

foto http://Wikipedia Mobil Buick Brigadir Jenderal Mallaby yang meledak di dekat Gedung Internatio dan Jembatan Merah Surabaya

 

Di tempat itulah, para kyai dari berbagai daerah yang berjumlah sekitar 15 orang melakukan musyawarah dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju Surabaya dengan menggunakan mobil.

Meski semangat arek-arek Suroboyo untuk menyerang tentara sekutu saat itu sudah kuat, namun mereka ditahan oleh Kyai Hasyim Asy’ari. Kyai Hasyim meminta masyarakat untuk terlebih dahulu menunggu kedatangan Kyai Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon.

“Kyai Abbas akhirnya ditunjuk menjadi komandan perang 10 November saat itu,” kata Munib.

Saat peperangan berkecamuk, Kyai Abbas berdoa khusyuk. Atas seizin Allah, kata Munib, ribuan alu milik masyarakat berterbangan dan menghantam pasukan penjajah. Butiran-butiran tasbih dilemparkan oleh Kyai Abbas dan mampu menghancurkan sejumlah pesawat terbang yang menjadi andalan utama tentara sekutu.

 

pertempuran surabaya

foto http://dewanku02.blogspot.com pertempuran surabaya

 

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Anfal : 17)

“Kyai Cholil Bisri pernah bercerita, bahwa Kyai Abbas mengibaskan sorbannya dan mengakibatkan pesawat terbang milik musuh hancur,” kata Munib.

Kyai Abbas wafat pada 1946. sebelumnya dia memendam kekecewaan menalam atas perjanjian Linggarjati yang diteken Pemerintah Indonesia dan penjajah saat itu. Menurut Kyai Abbas, Perjanjian Linggarjati sangat merugikan Indonesia.

 

sumber artikel http://regional.liputan6.com/read/2648991/kisah-gaib-perang-10-november-kiai-abbas-ledakkan-butiran-tasbih?ref=yfp

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 
WA +965.65.8363.99 navisdaftar FREEMEMBER