Sejenak Menengok Fenomena Dimas Kanjeng

Sejenak Menengok Fenomena Dimas Kanjeng

 

Dimas Kanjeng mengaku sebagai anak seorang mantan pejabat tingkat kecamatan yang bukan dari keturunan raja. Namun melalui Padepokan Dimas Kanjeng yang mengambil model mirip pesantren namun nyeleneh yang ia dirikan sejak 2010 di Dusun Sumber Cengkelek RT-22/RW-08 Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, mengajarkan hal-hal yang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo dinilai sebagai musrik di tengah-tengah prosesi ritual yang tidak masuk akal.

 

dimas

sumber foto http://Newsth.com dimas

 

Fenomena ini merupakan tren baru akhir-akhir ini sebut saja Kanjeng Dirman atau bernama asli M. Sudirman (50) warga Dusun Kajarharjo, Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi yang mengaku juga sanggup melipat gandakan uang yang diminta oleh pasiennya. Dan masih banyak lagi Dimas – Dimas, atau Dirman – Dirman lain yang melakukan hal yang mirip – mirip dengan modus operandi mereka itu, baik kamuflase cara berpakaiannya, gaya menarik simpatinya dengan mengadakan ritual – ritual yang ga jelas tuntunannya, atau dasar dalil – dalilnya, namun telah banyak mata yang tersipu dengan tipu daya mereka yang hanya berorientasi pada keduniaan semata.

 

dirman

sumber foto http://Malang Pos dirman

 

Salah satu hal yang nyleneh antara lain, para pengikutnya (“santri”) diminta membayar uang mahar sebagai pancingan untuk digandakan secara gaib menjadi 1.000 kali. Padepokan yang ia dirikan selain dijadikan sebagai ‘bank gaib’ juga tempat pengajian. Namun demikian ada perintah yang nyeleneh dari Dimas Kanjeng yang memerintahkan santrinya untuk berburu ayam hutan di Gunung Semeru tanpa memakai alat. Menangkap sedikitnya 200 ekor udang di petilasan Gajahmada, juga wajib membeli seutas benang sepanjang 15 sentimeter yang disebut sebagai ‘Tali Ali Baba’ seharga Rp 200.000.

Modus – modus mencari uang dengan menjual sedikit ritual agama dan dibumbui hal-hal yang tak masuk akal lainnya demi memperoleh keuntungan pribadi seperti ini juga sedang marak terjadi di tengah – tengah masyarakat kita saat ini, pelakunya tidak hanya Dimas ataupun Dirman saja, klo masyarakat mau sedikit kritis dengan fenomena seperti ini, silakan tengok di sekitar daerah masing-masing, jika ada gejala-gejala orang yang melakukan modus mirip-mirip mereka harus hati-hati, ditambah lagi dengan banyaknya masyarakat yang tengah menjadi korban namun tidak menyadarinya, dikarenakan lemahnya iman, sedikitnya ilmu agama, kurang mempunyai sifat sabar dan qona’ah, serta tingginya nafsu keduniaan, maka tidak sedikit dari masyarakat kita yang hanyut dalam penipuan – penipuan dengan modus seperti ini.

Harus dilenyapkan
“Mereka harus dilenyapkan karena membahayakan kelangsungan padepokan,” ujar Dimas Kanjeng Taat Pribadi ketika memerintahkan kesembilan orang pengawal pribadinya (centengnya) untuk menghabisi dua orang koordinator pengepul pemasang uang mahar (disebut ‘santri’) untuk dilipatgandakan menjadi 1.000 kali dari uang mahar yang diserahkan para ‘santri’-nya. Kedua koordinator itu bernama Hidayah Ismail asal Situbondo dan Abdul Gani asal Probolinggo, harus dihabisi karena mengancam akan membongkar kedok tipu-tipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi ke Polisi, saat ini juga sedang diselidiki adanya motif penghilangan nyawa yang tidak wajar dari 5 pengikut lainnya, yang baru saja dilakukan pemeriksaan terhadap 5 makam pengikut tersebut.

Mulanya kedua korban bersedia menjadi koordinator pengepul para ‘santri’ karena selain dijanjikan akan dibantu dana miliaran rupiah untuk memajukan usaha atau bisnisnya, juga sekaligus dijanjikan akan diangkat sebagai Sultan. Sebab, Dimas Kanjeng sendiri (baru saja) dinobatkan oleh Koordinator Raja-raja se-Nusantara dalam prosesi Jumenengan (penobatan) yang meriah dan fantastis sebagai Raja Probolinggo dan sekitarnya, dengan gelar Sri Raja Prabu Rajasa Nagara, 11 Januari 2016 baru lalu.

Dimas Kanjeng melalui kaki tangannya, pada Februari 2016 kemudian membujuk korban datang ke padepokan yang berada di areal seluas dua kali lapangan sepakbola, guna menerima dana bantuan sebesar Rp 20 miliar. Karena menolak datang ke padepokan, sembilan centeng Dimas Kanjeng menculik Hidayah Ismail dan dibunuh secara keji oleh para tersangka. Leher korban dijerat tali dan kedua tangan terikat kebelakang dengan kepala dibungkus tas plastik kresek.

Mayat korban kemudian dimasukkan ke dalam mobil dan dikubur secara terburu-buru di kawasan hutan Tegalsiwalan, Situbondo dan kedalaman liang lahat kurang dari setengah meter. Oleh karenanya, mayat korban yang sejak semula dipastikan polisi sebagai korban pembunuhan itu kemudian dibongkar sekelompok anjing dan ditemukan penduduk setempat. Namun karena tidak ada yang mengenalinya, maka korban diidentifikasi sebagai Mr X.

Korban kedua Abul Gani, yang dalam kesehariannya dikenal sebagai pedagang perhiasan emas dan batu permata asal Desa Semampir, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo dihabisi kesembilan orang (tersangka) centeng Dimas Kanjeng Taat Pribadi pada awal Juli 2016 dengan modus operandi yang sama dengan korban Hidayah Ismail. Hanya saja untuk menghilangkan jejak kejahatan mereka, mayat korban justru diangkut mobil dan dibuang begitu saja di bawah jembatan Waduk Gajahmungkur, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengan (Jateng).

“Modusnya sama dengan korban Hidayah Ismail. Leher korban dijerat tali, kedua tangannya diikat ke belakang dan kepalanya dibungkus tas plastik kresek. Identitas korban tidak ditemukan, sehingga diidentifikasi sebagai Mr X,” ujar Kapolda Jatim Irjen Pol Drs Anton Setiadi dalam percakapan dengan wartawan, Kamis (28/9) sore. Kedua kasus penemuan mayat Mr X itu berhasil dikenali setelah diusut dengan teliti oleh Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim melalui tes DNA.

“Dari penelusuran modus operandi dan ciri-ciri yang ada, penemuan mayat di Gajahmungkur, Wonogiri akhirnya identik pula dengan penemuan mayat di hutan Tegalsiwalan, Situbondo. Setelah melalui tes DNA, kedua korban diketahui identitasnya,” ujar Kapolda Jatim lagi sambil menambahkan, petugas Jantaras Ditreskrimum Polda Jatim kemudian langsung menangkap enam orang (tiga orang masih buron) centeng Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Dalam pemeriksaan, mereka mengaku sebagai tersangka pelaku yang taat atas perintah majikannya selaku pimpinan padepokan.

Menurut Kapolda, tersangka Dimas Kanjeng Taat Pribadi mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan terhadap Hidayah Ismail dan Abdul Gani. Motif dari pembunuhan itu sendiri dilatarbelakangi ketakutan tersangka terhadap kedua korban karena kedua santrinya (Hidayah Ismail dan Abdul Gani) adalah koordinator pengepul uang mahar yang akan digandakan oleh tersangka. Sebagai pengepul, mereka bertanggung jawab terhadap uang orang lain yang dibawa untuk digandakan.

Inilah beberapa akhir dari perkumpulan-perkumpulan yang dibumbui dengan ritual agama namun tujuannya bukan untuk akhirat melainkan buat mengejar keduniaan belaka, maka akal dan nafsunya yang jalan di bawah bujukan syaitan – syaitan, dan cara mengatasi masalahnya pun diakhiri dengan perbuatan dosa seperti pembunuhan, serta hal-hal yang merupakan ajakan syaitan belaka. Bagi masyarakat serta diri kita pribadi harus selalu mawas diri, apakah hidup kita sudah sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi kita atau belum, klo memang kita mengakui di jalan agama ya harus berupaya sebisa mungkin persis dengan bagaimana Nabi kita menjalani hidup ini untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, dalam kehidupan Nabi dan Para Sahabat hanya berorientasikan semua yang dilakukan setiap hari hanyalah ditujukan untuk Allah semata, jadi tujuannya akhirat, klo toh kita dapatkan dunia itu karena karunia-Nya saja. Dan dalam beragama kita juga harus selalu mengoreksi apakah ritual-ritual yang kita laksanakan sudah persis dengan tuntunan Nabi ataukah melenceng atau mengada-ada seperti yang dilakukan dimas dll tersebut. Maka dari itu dari kasus Dimas ini harus menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas untuk ke depannya bagaimanakah seharusnya kita menjalani kehidupan ini, jangan terperosok ke lubang yang sama.

Pada bagian lain Kapolda Jatim membenarkan, pihaknya kini meminta bantuan tim ahli dari Bank Indonesia (BI) guna meneliti uang yang tersimpan di bungker-bungker padepokan, apakah asli atau palsu. Dalam pemeriksaan terungkap, ada indikasi uang yang notabene digandakan disimpan tersangka ke salah seorang di Jakarta. Jumlah uang yang ada itu diakui Irjen Pol Anton Setiadi cukup fantastis yakni mencapai angka Rp 1 triliun.

Tersangka yang mengaku sebagai otak pembunuhan, bakal dijerat pelanggaran Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan yang direncanakan (moord) dengan ancaman hukuman mati, atau seumur hidup atau paling lama 20 tahun penjara.

 

sumber artikel :

  • http://www.beritasatu.com/nasional/389281-kronologi-kasus-dimas-kanjeng-pimpinan-padepokan-bank-gaib-yang-menghabisi-santrinya.html
  • http://beritajatim.com/hukum_kriminal/279453/kanjeng_dirman_dukun_pengganda_uang_dari_banyuwangi.html

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 
WA +965.65.8363.99 navisdaftar FREEMEMBER