Asketisme, Zuhud dan Hedonisme yang Musti Diketahui Hari Ini

Asketisme, Zuhud dan Hedonisme yang Musti Diketahui Hari Ini

 

ASKETISME

Asketisme, ajaran yang berisi tentang upaya menunda penggunaan kenikmatan dan sumberdaya dunia untuk kepentingan diri pribadi, selalu diajarkan kepada para santri. Ia menjadi pokok bahasan wajib dalam seluruh kitab kuning yang menceritakan tentang pengaturan hati dan karakter. Ia erat dengan sufisme, ajaran tentang langkah penyucian hati dan jiwa, dengan membunuh keinginan pribadi, mengedepankan kepentingan kolektif.

 

Ulama' zuhud

foto http://saripedia.com – WordPress.com Ulama’ zuhud

 

Asketisme bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi, akan tetapi ia adalah hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus, di mana mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan hati mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya.

Abu al-‘Ala ‘Afifi berpendapat bahwa ada empat faktor yang mengembangkan asketisme dalam Islam. Pertama, ajaran-ajaran Islam itu sendiri. Kedua,revolusi rohaniah kaum Muslimin terhadap sistem sosio-politik yang berlaku.Ketiga, dampak asketisme Masehi. Keempat, penentangan terhadap fiqih dan kalam.

 

ZUHUD

Zuhud secara bahasa artinya meninggalkan, tidak menyukai, atau menjauhkan diri. Sedangkan zuhud secara istilah berarti tidak mementingkan hal – hal yang bersifat keduniawian, atau meninggalkan gemerlap kehidupan yang bersifat material dalam mengabdikan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Zuhud termasuk salah satu ajaran agama islam yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh negatif kehidupan dunia. Orang zuhud lebih mengutamakan atau mengejar kebahagiaan hidup di akhirat yang abadi daripada mengejar kehidupan dunia yang fana. Hal ini dapat dipahami dari isyarat ayat – ayat berikut.
4:77
Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (Q.S An – Nisa ayat 77 )

HEDONISME

Menurut pengertian yang umum di gunakan mengenai istilah hedonisme ialah paham pemenuhan kebutuhan rasa kesenangan. Titik tumpu dalam istilah ini ialah pencapaian rasa senang.

Sebenarnya istilah hedonisme sangat luas pengertiannya, karena istilah hedonisme memiliki sejarah filosofisnya. Jika menurut Epikurus, hedonisme adalah pencapaian kesenangan secara indrawi (jasmani) untuk menghidarkan diri dari kesusahan. Menurut Epikurus; lebih baik bahagia daripada hidup dalam penderitaan. Karena penderitaan di anggap sesuatu hal yang jahat dan menyakitkan.

Pada saat ini jika mendengar istilah hedonis maka secara alamiah menuju kepada persepsi; hidup yang berorientasi kepada kemewahan, glamor, senang-senang, foya-foya dan konsumtif. Persepsi itu di arahkan kepada sebuah kesenangan hidup yang secara nilai adalah negatif. Padahal secara filosofisnya bukanlah seperti itu, melainkan hedonism adalah suatu ajaran yang mencari kebahagiaan hidup dengan menekan atau meniadakan kesusahan, penderitaan dan kesialan. Adapun caranya ialah melalui pemenuhan kebutuhan indrawi (jasmani) secara cukup (sesuai kapasitasnya). Dapat memenuhi kebutuhan atau tuntutan jasmani, berarti juga dapat memenuhi ketenangan batin.

 

zuhudud duniya

foto http://www.wajibbaca.com zuhudud duniya

 

Para santri yang biasanya berasal dari desa, sangat ‘compatible’ dengan prinsip ini, orang tua mereka selalu mengajarkan ‘heug urang teundeun di haneuleum sieum geusan sampeureun, cag urang tunda di hanjuang siang geusan alaeun’. Mereka diajarkan untuk menyimpan segala macam potensi diri dan alam untuk membangun kesejahteraan kolektif, bukan untuk diri sendiri.

Manusia yang berhasil membuat ajaran ini mendarah daging dalam dirinya, biasanya tidak akan pernah peduli terhadap citra manusia lain terhadapnya. Baik atau buruk baginya sama saja, bahkan pujian dan sanjungan mereka pandang layaknya senyuman unta yang tidak berarti apa-apa. Terlena oleh pujian adalah kecelakaan baginya, sedih karena cercaan dan kritikan adalah kehilangan derajat baginya.

Ini bagi Manusia yang sukses menjadikan Asketisme sebagai karakter hidupnya. Bagaimana mereka yang gagal? Katakanlah keadaan yang tanpa segala sumber daya itu adalah latihan. Tentu banyak dari kita yang akan lulus dalam latihan.

Dikisahkan Rosulullah pernah bersabda dalam suatu hadits, yang kurang lebihnya demikian, “Seandainya Allah mengaruniakan emas kepadaku sebesar gunung uhud, maka Aku tidak akan membiarkannya ada padaku sampai dengan 3 hari. Akan aku sedekahkan semuanya, hingga hanya Aku sisakan sebesar hutang yang harus Aku bayarkan saja”. (al-Hadits)

Diceritakan pula dalam kitab Hikayatus Shahabah, bahwa Siti Aisyah r.ha pernah membagikan segunduk harta pada saat kemenangan-kemenangan Islam, sehingga banyak harta dari rampasan perang di rumah Rosulullah SAW, maka Siti Aisyah r.ha membagi-bagikan semua harta tersebut, hingga tak tersisa. Di hadits yang lain juga banyak diceritakan bahwa di rumah istri-sitri Rosulullah sering kali sampai 3 purnama tidak mengebul dapur mereka, karena memang tidak ada yang bisa di masak. Dan masih banyak sekali kisah-kisah zuhud keluarga Nabi SAW dan para sahabatnya yang lainnya, yan insya Allah boleh ditulis dalam pembahasan-pembahasan mendatang.

Kemudian karakter diri yang sesungguhnya akan muncul saat segala sumber daya dalam genggaman. Harta, Kekuasaan, dan Relasi yang serba mudah. Diri kita yang sesungguhnya sekonyong-konyong akan menunjukan wujudnya saat kita memiliki itu semua. Maka banyak diantara kita yang lulus diuji dengan kemiskinan namun gagal total saat diuji dengan keadaan serba ada. Siang ini hanya ada segelas kopi, tentu lumayan!! Alhamdulillah.

 

sumber artikel :

  • http://vickytrisamekto-king.blogspot.com/
  • http://tamanhikmah.blogspot.com/2014/03/pengantar-tasawuf-2-gerakan-zuhud-pada.html
  • http://falah-kharisma.blogspot.com/2012/12/pengertian-dari-sifat-zuhud.html
  • https://www.facebook.com/KitabSuciAlQuran.New/posts/1167494943332448?notif_t=page_reengaged&notif_id=1479793328430629

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 
WA +965.65.8363.99 navisdaftar FREEMEMBER